Cahaya wormhole membungkus seluruh badan pesawat dalam pusaran warna yang tak lazim, ungu pekat berputar dengan guratan perak dan biru, seperti helai-helai petir halus yang melesat dalam kehampaan. Dinding pesawat bergetar halus, menciptakan dengungan rendah yang seperti nyanyian makhluk purba di balik tirai ruang.

Di dalam kokpit, Eliza memusatkan perhatiannya untuk memastikan pesawat tetap sesuai jalur, sementara layar utama menampilkan jalur lintasan yang melengkung seperti aliran selang. Sensor energi berkedip seirama dengan tarikan ruang, lalu perlahan-lahan melambat. Getaran pun berhenti.

"Stabilisasi dimulai... Koneksi ke ruang nyata tersambung kembali," lapor sistem otomatis.

"Keluar dari wormhole dalam... tiga... dua... satu..."

Suara desing berat memudar bersamaan dengan terbukanya jendela pandang utama. Di depan mereka membentang sebuah planet berwarna kuning kehijauan, dikelilingi lapisan awan tipis seperti kabut. Permukaannya tampak bergunung-gunung dan dikelilingi sabuk meteor yang jarang.

"Tujuan tercapai, Planet Yura, koordinat sektor-7 dari rute perdagangan lama," suara sistem kembali berbicara.

"Stabilisasi gravitasi dan tekanan udara... berhasil."

Eliza menghela napas, menoleh ke arah Mona. "Pendaratan bisa dilakukan kapan saja."

Saat semua mulai tenang, Lynx melangkah perlahan mendekati Mona yang baru saja menyandarkan tubuhnya ke sisi panel setelah menyelesaikan pengecekan akhir.

"Mona," panggil Lynx. "Kami ingin meminta bantuanmu."

Mona menoleh. Leena sudah menyerahkan alat kecil berbentuk kotak seukuran bola kasti berwarna perak berkilau, terbuat dari baja langka, dan berdiri di atas kaki penyangga. Permukaannya dihiasi pola geometris holografis. Di tengahnya terdapat lubang bulat yang dikelilingi lampu biru dan hijau samar. Beberapa tombol bersimbol mengelilingi tepiannya, sementara port dan konektor tampak di bagian belakang.

"Apa ini?" tanya Mona sambil mengamati alat tersebut dengan penuh rasa ingin tahu. Jemarinya memutar perlahan sisi alat itu, memperhatikan port dan konektor yang terpasang.

"Itu adalah alat yang dapat membantu kami menemukan sahabat kami, Lala," jelas Leena. "Kami ingin menemukannya, tetapi alat ini tidak berfungsi lagi. Mungkin kamu bisa memperbaikinya atau ada kenalan yang bisa membantu kami."

Mona mengangguk kecil, lalu berjalan ke meja kerja di sisi ruangan. Ia mengambil kabel penghubung dan memodifikasinya lalu mencoba menyambungkannya ke port Jack di meja teknisi.

Beberapa saat berlalu, namun tidak ada satu pun respon dari layar utama.

"Hmm… aneh." dengan hati-hati Mona membuka panel bawah alat tersebut. Wajahnya langsung berubah serius.

"Sirkuitnya terbakar... terlihat seperti kelebihan beban. Alat seperti ini semestinya memiliki pengaman dari arus berlebihan."

Leena memandang Lynx yang tersenyum tipis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Namun Sara yang berada di belakang punggung Leena, secara diam-diam memberi kode yang hanya bisa di mengerti Mona dan Eliza.

Mona segera tersenyum tipis.

"Tenang. Aku memang tidak bisa memperbaikinya, tetapi di Planet Yura, ada satu orang yang mungkin bisa memperbaikinya. Seorang ahli mesin dan dia memiliki perangkat teknologi yang bisa memperbaiki alat ini. Namanya Kora."

Lynx membuka mata, memandang Mona dalam-dalam. "Kalau begitu, bawa aku padanya."

Mona mengangguk, lalu menatap Eliza. "Segera setelah kita mendarat."

Setelah pesawat mendarat di dermaga ketiga, pintu terbuka perlahan, menghembuskan angin panas bercampur bau logam yang menyengat. Planet Yura membentang di depan mereka, dataran gersang dan retak-retak, namun ramai oleh pesawat berbagai bentuk dan warna. Di kejauhan, terlihat menara komunikasi menjulang, dikelilingi bengkel-bengkel besar tempat para teknisi dari berbagai ras bekerja tanpa henti.

Leena dan Lynx merasa takjub melihat penduduk yang berkeliaran di sekitar pesawat mereka.

"Lynx, bukankah ini mirip seperti di film-film fiksi? Jika di benua Tianzhou, orang bisa menganggap sebagai binatang iblis." bisik Leena ke Lynx sambil memantau keluar jendela.

Lynx hanya mengangguk dan memperhatikan sekitar. Makhluk-makhluk asing berlalu-lalang di pelataran pelabuhan. Beberapa memiliki lengan berjumlah empat, ada yang sebagian tubuhnya berlapis sisik. Hiruk-pikuk dan kebisingan menjadi latar suara konstan, namun teratur. Jika bukan karena mereka berpakaian dan bisa berbicara, Lynx dan Leena bisa menganggap mereka sebagai makluk aneh. Namun karena mereka pernah menonton film, jadi mereka bisa dengan cepat mengendalikan diri.

Setelah mesin pesawat benar-benar mati dan laporan sistem menunjukkan status stabil, Mona segera mengajak Lynx pergi.

"Ayo, aku tahu tempat perbaiki alat kalian. Kita cari orang yang bisa bantu," katanya cepat.

Lynx mengangguk dan melirik Leena sejenak. Namun sebelum Leena menyusul, Eliza menghampirinya bersama Sara dan Isha.

"Leena, daripada mengikuti mereka, bagaimana jika kamu mengikuti kami?" kata Eliza dengan nada ramah. "Kami ingin menunjukkan sesuat tempat yang menarik bersama Isha."

Isha menatap Leena dengan wajah polos, seolah ingin Leena menyetujui ajakan itu. Leena ragu sejenak, tapi melihat Eliza dan Sara tampak tenang, ia akhirnya mengangguk.

"Baik. Tapi hanya sebentar."

Setelah meminta izin dari Lynx, Leena mengikuti mereka. Lynx tidak khawatir karena dengan kemampuan Leena, dia bisa jaga diri. Selain itu, Leena memiliki cara untuk memanggilnya dalam keadaan bahaya.

Mereka berjalan menyusuri gang sempit di antara bangunan logam yang berkarat, masuk ke sebuah lorong sunyi yang tampak tak terurus. Saat mencapai sebuah bangunan kecil berbentuk setengah kubah, Eliza membuka pintu dan mempersilakan Leena masuk lebih dulu.

Begitu Leena melangkah, sebuah suara pelan terdengar.

Ceklik.

Tus!

Sesuatu benda mengarah ke lehernya, dan ia refleks menepisnya dengan Qi, lalu memutar tubuh.

Sara sudah berdiri sambil memegang senjata kecil. Dua jarum lain melesat, namun Leena mengibaskan lengan, membentuk pusaran Qi yang memantulkan tembakan itu ke dinding.

"Apa yang kalian lakukan?!" serunya tajam.

Tanpa menjawab, Sara melempar bom asap ke arah Leena yang masih belum menyadari situasi.

Eliza segera memberi isyarat. Dari balik dinding, beberapa sosok muncul, para pemburu budak dengan senjata bius siap di tangan.

Leena melompat ke belakang, kedua tangannya membentuk jurus pertahanan. Qi-nya menggumpal di telapak tangan, siap meledak dalam satu pukulan.

Tus! Tus! Tus!

Jarum-jarum melesat lagi. Leena menghindari beberapa, menangkis lainnya, namun satu jarum menembus bahunya. Asap yang dia hirup sebelumnya mengandung obat bius dan dengan cepat mempengaruhi tubuhnya. Rasa mati akibat jarum yang menusuk bahunya terasa menjalar cepat. Ia mengertakkan gigi, memaksa Qi-nya untuk membakar racun, tapi...

Tus! Tus! Tukk!

Tiga jarum menancap sekaligus, satu di sisi leher, dua di punggung.

Tubuhnya melemah, lututnya mulai goyah. Secara samar, dia melihat Isha sudah tergeletak di lantai. Dengan cepat Leena berniat merobek kertas formasi untuk memberi tahu Lynx, namun beberapa jarum bius menembaknya lagi.

"Eliza... kalian... " bisik Leena dengan napas berat. Mata Leena membara oleh amarah, namun kesadarannya mulai lenyap.

Segalanya menjadi gelap bagi Leena, dan tubuhnya rebah tanpa daya di lantai besi yang dingin.

"Sara, siapa wanita ini? Kita harus menembak banyak jarum bius agar bisa menaklukannya." kata salah satu pria.

"Aku tidak mengenalnya. Dia bersama seorang pria tiba-tiba muncul. Aku tidak banyak bertanya agar mereka tidak curiga. Baguslah kalian membaca pesan yang kuberikan dan mempersiapkan senjata bius dengan tepat." Jawab Sara sambil tersenyum sinis ke arah Leena.

Eliza melanjutkan, "kalian harus membayar mahal untuk wanita ini. Untuk menutupi kerugian kami karena rekan-rekan kami terbunuh di misi ini. Kalian lihat, dia tidak hanya bisa dijadikan budak, tetapi bisa di bawa ke arena pertarungan. Dia memiliki kekuatan supranatural seperti rekannya."

Orang-orang tersebut tersenyum jahat. Mereka sudah membayangkan akan mendapatkan keuntungan banyak dari wanita yang mereka tangkap ini. Sangat jarang mereka menemukan wanita yang mampu bertarung.

"Lalu siapa dia?" tanya salah satu pria lainnya.

Sara mendekat sambil menepuk kepala Isha. "Anak ini polos. Dia percaya kami.... Seharusnya dia dan keluarganya kujual kepada kalian menjadi budak, tetapi mereka semua terbunuh di Planet Orjeon."

Eliza berjongkok, menatap wajah Leena yang tidak sadarkan diri.

"Kau sangat kuat... sayang sekali jika kekuatanmu tidak dimanfaatkan. Kamu sudah memberikan keuntungan banyak untukku. Dan dia," ia menunjuk Isha, "akan menjadi budak yang sangat laku disini."

